AKSARA KIRANA Buku Dua

Featured

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

ak2 web

PERHATIAN!

Di sini kami tidak akan terlalu membahas panjang tentang bagaimana cerita dalam novel ini, tapi kami akan menginformasikan bahwa ini adalah buku ke dua Aksara Kirana. Buku Aksara Kirana dua ini baru hadir dalam versi ebook. Semoga ke depan kami bisa menghadirkan dalam bentuk cetakan buku dengan penulis Mischa I.M ini. Anda bisa cek disini: http://www.wayang.co.id/index.php/toko/detail/26312 untuk mendapat versi ebook-nya.

Dalam Novel ke dua ini, Mischa I.M banyak mengemas cerita petualangan Aksara, Kirana bersama teman Bayanaka-Anggaraksa serta guru mereka di Kalandra ke dimensi empat. Tujuan mereka menempuh perjalanan berbahaya ini untuk mencari sekutu berkaitan dengan sepak terjang Buntala, seorang Bayanaka yang menjual dirinya pada iblis. Dan bagi Kirana, tentu saja mencari Biru, anak Buntala yang berteman dan menjalin cerita dengan Kirana ketika mereka di Kalandra dan telah diculik ke dimensi empat.

Selain cerita alur utama, ada juga sisi lain Kirana yang menjalani ospek kuliah di dunianya, dunia manusia. Novel ini wajib anda miliki bila anda adalah penggemar novel fantasi! Kita akan bertemu kurcaci, widadari, Dewi Batari dan lain sebagainya. Jika anda berniat memiliki versi ebook buku ini, anda bisa dapat disini: http://www.wayang.co.id/index.php/toko/detail/26312

Selamat membaca!

FROTEAST

Iklan

CESPEN: Tiga Sobat

Tag

, , , , , , , , , , , ,

hqdefault


Dulu,
waktu di alam Ruh sebenernya aku mempunyai dua sobat karib. Nama mereka adalah David Beckham dan Bob Marley.

Kita biasanya bersama-sama membuat kerusuhan di pasar, jalan raya atau tempat-tempat keramaian lainnya hingga membuat betina-betina mengomel —bahkan ketika masih berupa cairan pun mereka bisa cerewet dengan fasih. Kami tentu saja sudah kabur semenjak kemarin lusanya —maaf.. perhitungan waktu di alam Ruh sangat membingungkan.

Jadi, setiap sore kita sering bermain bersama-sama di pantai sambil menikmati matahari tenggelam. Saat fenomena matahari terbenam terjadi, biasanya akan memakan waktu beberapa tahun. Akhirnya kami sering main dengan lama.

David Beckham itu dulu aku panggil ‘Mpid’. Si Mpid ini selain jago bahasa Inggris dia juga suka panjat pohon kelapa. Cuma sering diminum sendiri air kelapanya di atas pohon. Ambil 10, yang kosong 8. Katanya untuk mengganti ion tubuh yang hilang, soalnya dia suka nendang-nendang kelapa, main bola. Memang, dia lumayan jago main bola padahal kaki kanan si Mpid pernah bengkok gara-gara jatuh dari pohon kelapa. Kalau enggak salah, tinggi pohon itu sekitar 1 kilometer, lumayan tinggi sih. Setelah jatuh itu kaki si Mpid langsung di urut, cuma dua kali urut atau 0,0035 detik kaki si Mpid sudah lurus lagi. Hebat si Emak Rata —tukang urut. Namun anehnya, semenjak itu tendangannya ketika main bola jadi melintir belok seperti pisang.

Lain lagi dengan sobatku yang satu ini, Bob Marley. Kupanggil dia ‘Bobrrrly’, pelafalannya cukup mudah, BO-BHERRR-LI dan pada penggalan ‘BHERRR’ harus muncrat. Kita mesti benar mengucapkannya, karena si Bobrrrly ini sangat detail dalam urusan bunyi dan dia juga sangat berbakat soal musik. Seperti biasanya, Bobrrrly sore di pantai itu bertelanjang, memegang gitar, lalu dia duduk di karang tajam yang menusuk-nusuk bokong telanjangnya, dia tak acuh. Tidak lama kemudian, Bobrrrly sudah asik menyanyikan lagu dengan aksen Jamaika. Ikan-ikan bermuculan mendengar suara merdu dari lagu yang dimainkan. Lalu, si Bobrrrly menarik jaring yang mengurung ikan-ikan itu. ‘Sial! Lagi-lagi kita tertipu kata-kata merdu.’ Ujar salah satu ikan berwarna oranye yang tertangkap itu.

Aku, Bobrrrly dan Mpid akhirnya makan bersama. Kelapa muda dari si Mpid dan ikan bakar dari si Bobrrrly tersedia. Aku enggak bawa apa-apa. Aku berhasil melakukannya, jadi aku tidak boleh sombong.

Kita saling mengenal dan bersahabat sampai bertahun-tahun kemudian. Meski kita jarang saling berkomunikasi karena kita tak begitu paham bahasa masing-masing, kita tetap dikenal sebagai tiga sobat erat. Sampai satu per satu kami di bawa ke alam dunia. Bobrrrly terlebih dulu, lalu Mpid. Aku yang terakhir sampai di dunia, tapi akulah yang memiliki ingatan kuat, hingga aku bisa bercerita pada kalian tentang dunia yang aneh ini.

Terima kasih, sobat!

Hadiah Surgawi Sang Ilahi

Tag

, , , , , , , , ,

Terpesona oleh selera seni sang Ilahi,

yang seakan menerbangkan serbuk besi di langit tinggi.

Terpana hingga tersenyum geli karena makhluk-makhluknya,

seperti hadiah surgawi obati luka hati.

 

Berpendaran benih-benih kebahagiaan.

Bersahutan rima-rima suka cita.

Terbawa suasana.

Hanyut dalam nikmat.

Resapi,

Syukuri.

 

Berangsur buluh nadi berdenyut tenang,

perlahan.

Kuraba-raba lagi memori,

atau yang kukira luka hati.

Tak perlu ada yang disesali,

rajutan nyata dan mimpi

‘kan terbawa hingga kita diakhiri.

 

 

Bersama Semut Api dan Pohon Mati

Tag

, , , , , , ,

Semut api berbaris di antara pohon-pohon mati,

berbagi duka dan sengsara antar sesama.

Tonggeret bersuara parau berteriak,

menyambut hujan dengan ceria.

Biawak bersembunyi di balik semak yang dingin.

Ikan gabus berpesta pora menyambut lahan yang meluas.

 

Ada kontradiksi dari semua aksi.

Kadang kita tersenyum dan tertawa,

kadang kita merenung dan merana.

 

Kepada pohon, danau bahkan pada tanah kita berbicara,

dengan tingkah gila juga kepalsuan semata.

Hari demi hari menggaruk luka bumi,

menambah daftar dendam mereka pada polah manusia.

 

Terbawa arus kemunafikan, aku mulai bosan.

Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi kemarahan.

Tak ada lagi keresahan, tak ada lagi perasaan.

Diam bersama semut api dan pohon mati.

Mesti Merindu?

Tag

, , , , , , , ,

Manusia organisme hidup

berkembang dan tumbuh

orgasme dan kembali bersetubuh.

Hidup, tumbuh, bersetubuh, hidup!

 

Tapi begitu sering kita terlena

dalam egoisme pribadi.

Tak berteman cerita

bercanda apalagi berbagi.

 

Bukankah kita sama mesti merindu?

Agar hati tak mati

membiarkan diri mengasihi

berjumpa dan bahagia.

 

Karena memiliki cinta,

bukan berarti memiliki dunia.

Mengapa Bima Terlewat?

Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,

Hamparan pasir putih dan laut biru bersanding dengan serakan sampah yang tersebar di sepanjang pesisir pantai dusun Pasir Putih, Bajo Pulo. Dengan sampah plastik sebanyak ini beberapa teman kami di tim ENJ 2017 SEKBER KPA membuat lelucon, ‘jika pengelola sampah di pulau Jawa datang ke pulau ini, mereka akan mendadak kaya!’.

Hal ini bukan semata-mata bentuk ejekan terhadap sampah yang masih dianggap sesuatu yang wajar di Bajo Pulo, namun juga bagaimana solusi dari perkara sampah ini masih mengambang di permukaan, seperti; Setelah dikumpulkan, apa yang mesti dilakukan terhadap sampah-sampah ini? Di mana sampah ini di buang? Bagaimana cara memanfaatkan dan mengelolanya?

Observasi yang tim lakukan sejak hari pertama memang sudah mengarah pada soal sampah yang dibiarkan tersebut, karena sampah adalah salah satu dari masalah yang menghambat keindahan pulau dan pantai di Bajo Pulo ini terekspose, padahal tempat ini memiliki potensi pariwisata yang menarik.

Bajo Pulo terletak di sebelah Timur pelabuhan Sape, sekitar 15 menit menggunakan perahu motor. Desa Bajo Pulo memiliki tiga dusun, yaitu: Dusun Bajo Barat, Dusun Bajo Tengah dan Dusun Pasir Putih. Tim kami sendiri menempati rumah Pak Burhan (Bendahara Desa, pen) yang berada di tengah-tengah antara Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah serta berseberangan langsung dengan kantor Desa Bajo Pulo.

Rumah yang kami tempati memiliki pemandangan yang menarik. Jika kita melihat ke arah barat daya atau tepatnya di belakang rumah, kita sudah dapat melihat permukaan laut yang berjarak kira-kira hanya 20 meter saja, dengan sudut kemiringan -55° dan sangat terjal di 3 meter terakhir. Rumah itu memiliki titik koordinat:  08° 57′ 55″ LS   119° 03′ 47″ BT.

Kontras dengan air laut yang sangat mudah didapat hingga ibaratnya kita dapat memperoleh langsung dengan menggelindingkan diri ke laut. Pulau ini tak memiliki sumber air tawar hingga penduduknya harus membeli air tawar yang dikirim dari Sape. Harga satu tandon 1000 liter air yang biasa dipakai satu rumah tangga sama dengan seratus ribu rupiah, dan diangkut dengan kapal seminggu sekali ke Bajo Pulo.

Kepala Desa Bajo Pulo, Bambang H. Ahmad pun membenarkan bahwa salah satu masalah di Bajo Pulo adalah air tawar yang sulit didapat, slang yang ada dan tersambung dari Sape tidak pernah berfungsi untuk memenuhi kebutuhan penduduk di Bajo Pulo. Kami pernah bertanya, apa di pulau ini tidak ada titik air untuk pemasangan pompa? Menurut Pak Burhan, “Titik air ada, tapi untuk mengebor memerlukan alat dan mata bor yang mahal”, karena kontur pulau yang sebagian besarnya berupa batuan keras. Bahkan pohon sulit untuk tumbuh di pulau ini, hanya beberapa varietas tanaman saja yang dapat kita jumpai di Bajo Pulo, hingga kambing yang merupakan hewan ternak (di Bima dan sekitarnya, hewan ternak dibiarkan berkeliaran, pen) pemakan tumbuhan sering terlihat memakan kertas, dus atau kain. “Jika kalian tidak sengaja menjatuhkan uang, kalian akan beradu cepat dengan kambing untuk mengambilnya.” Ujar Pak Bambang sambil tertawa.

“Kenapa dulu moyang kami pindah ke sini! Air susah, kayu susah, listrik juga susah, haha.” Humor sarkasme salah satu penduduk Bajo Pulo itu mungkin bisa jadi merupakan keresahan yang juga dirasakan oleh masyarakat di Bajo Pulo. Dusun Bajo Barat dan Dusun Bajo Tengah hanya bisa menikmati listrik dari mulai pukul 18.00 WITA sampai dengan 06.00 WITA, namun aliran listrik dari mesin diesel ini tidak sampai ke dusun Pasir Putih. Kendala jarak menjadi penyebab hal itu.

Dusun Pasir Putih memang seperti desa yang terpisah dengan Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah. Kita harus menggunakan perahu motor sekitar 5 – 10 menit untuk sampai di Dusun Pasir Putih. Meski hanya memiliki satu dusun, area di Dusun Pasir Putih ini lebih luas serta memiliki jenis tanaman yang beragam dari dua dusun lainnya.

Ketika kami melihat ke Dusun Pasir Putih, di sana sedianya ada beberapa keluarga yang mampu untuk memenuhi kebutuhan listriknya, mengeluarkan sendiri biaya dengan membeli alat konversi tenaga surya. Namun, sebagian penduduk yang rumah tangganya tidak memiliki sumber tenaga listrik berharap di dusun mereka mendapat aliran listrik paling tidak seperti di Dusun Bajo Barat dan Bajo Tengah.

Setelah observasi di hari pertama, esoknya sebagian dari tim berkunjung sekaligus izin pelaksanaan kegiatan ke kantor Bupati Bima. Kami disambut oleh asisten satu yang menjelaskan bahwa Bupati dan Wakil Bupati tak bisa menemui kami karena mereka baru pulang dari acara di Mataram. Dan pertanyaan pertama yang diajukan oleh Pak Qurban (Asisten 1 Bupati Bima, pen). “Bagaimana, apa kalian aman?”

Kami memulai perbincangan mengenai program bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan yang akan tim jalankan di Bajo Pulo, lalu tentang evaluasi yang kami simpulkan setelah pengamatan yang dilakukan pada hari sebelumnya. Saat kami berkata bahwa Bajo Pulo adalah tempat yang bagus, Pak Qurban mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik. “Mengapa Bima terlewat dari destinasi wisata? Banyak wisatawan tidak memperhitungkan Bima sebagai tujuan ekskursi mereka. Ini masalah keamanan!”

Asisten 1 Bupati Bima, H. M. Qurban SH. bercerita bahwa orang Bima kerap menyelesaikan masalah dengan perkelahian bahkan perang antar wilayah. Dan mengapa pada awal perjumpaan kami, dia bertanya apakah tim dalam keadaan baik dan aman, itu karena di Pelabuhan Bima tempat kami turun dari K.M AWU sering ada laporan masalah keamanan, dan notabene hal ini juga menjadi penghambat majunya pariwisata di Bima.

Jika kita cermati wilayah-wilayah seperti Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Komodo, Labuhan Bajo di Flores, belum lagi bila terus ke Timur seumpama ke Atambua bahkan ke Raja Ampat di Papua. Indonesia memiliki banyak destinasi wisata yang unik dan menarik terlebih laut serta pantainya. Namun di banyak lokasi, sarana dan prasarana belum memadai (kecuali objek wisata itu sudah sangat terkenal dan mendunia, pen), terutama di Bima dan lebih khusus lagi Bajo Pulo tempat kami melihat hal tersebut lebih dekat.

Sebagai tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2017 yang memiliki slogan ‘Bersama Membangun Negeri’, berat rasanya mewujudkan hal tersebut walau sedikit saja. Ditambah jadwal transportasi laut yang tidak ada setiap waktu hingga kami harus tetap menyesuaikan agenda kapal yang membawa pulang dan program kerja agar berjalan baik. Kami merasa banyak kekurangan di sana-sini. Akan tetapi, kami telah berusaha menyampaikan kepada masyarakat di Bajo Pulo tentang apa yang mesti kami sampaikan, pun demikian kepada pemerintah daerah atau pada pemerintah pusat lewat laporan-laporan kami atas berbagai soal di Bajo Pulo. Dan saat itu, terpikir ada hal lain juga yang perlu kami lakukan, yaitu, mencoba sendiri wisata jalur laut.

Ketika kita melihat lajur, setelah Pulau Jawa deretan pulau itu adalah Bali, Lombok, Sumbawa (termasuk Kota Bima dan Bajo Pulo, pulau yang merupakan Kecamatan Sape, pen), Pulau Komodo, lalu Labuhan Bajo yang berada di kawasan Kepulauan Flores. Namun tak seperti transportasi laut ke Bali, lombok, Komodo dan Labuhan Bajo. Angkutan laut ke atau dari Bima sangat terbatas, jeda satu kapal mesin yang melintas pelabuhan Bima bisa berminggu-minggu sedangkan jumlahnya sangat sedikit. Belum lagi ketika kita bandingkan kapal dengan rute Lombok langsung ke Labuhan Bajo dan dari sana kapal feri yang mengangkut ke Pulau Komodo sangatlah intens, ini barangkali yang menyebabkan Bima serta pelabuhan-pelabuhannya terasa terlewatkan. Sebetulnya kita tak bisa serta-merta menyalahkan keadaan tersebut, seperti yang telah dibahas sebelumnya, banyak hal yang mesti dibenahi terlebih dulu karena bagaimanapun tingkat permintaan penumpang wisata baik itu domestik atau luar negeri mempengaruhi rute dan intensitas kapal. Tapi, sebelum menghendaki berbagai hal mengenai fasilitas dan sebagainya, kami merasa perlu untuk mengetahui serta memperoleh sendiri gambaran jalur dari Pelabuhan Sape ke Pulau Komodo, akhirnya kami menguji dengan menggunakan kapal motor.

Nelayan di Bajo Pulo berkata bahwa saat mereka berlayar, dalam menentukan arah mereka hanya mengandalkan gugusan pulau dan bintang sebagai petunjuk. Ini terbukti saat perjalanan kami. Sore itu kami telah berkemas untuk perjalanan rute wisata ke Pulau Komodo. Selepas magrib kami langsung menuju dermaga Bajo Pulo untuk menaiki perahu Pak Aji Jamal yang sudah menunggu. Kapal motor itu hanya dua kali lebih besar dari pada kapal yang biasa membawa kami menyeberang dari pelabuhan Sape ke Bajo Pulo atau ke Dusun Pasir Putih, barangkali perbedaan lainnya hanya terletak dari kelengkapan kapal yang memiliki perahu sampan (kapasitas maksimal 4 orang, pen) untuk keadaan darurat dan dek tambahan tempat menyimpan barang. Satu lagi perbedaan mencolok terletak di kemudi kapal, jika perahu motor biasa menggunakan setang atau batang besi yang tersambung dengan mesin di belakang perahu, kali ini kemudi kapalnya seperti setir mobil, jadi rasanya dibanding disebut kapal motor, perahu seperti ini lebih cocok dipanggil kapal mobil.

“Tolong matikan senternya!” Kapten kapal Pak Aji Jamal berteriak dari balik kemudi. Begitu diperhatikan lebih seksama, memang cahaya dari lampu senter malah mempengaruhi jarak pandang untuk melihat gugusan pulau dan pulau tujuan kami di perairan Selat Sape itu. Meski telah malam, alam memiliki pendar cahayanya sendiri.

Malam itu kami berlayar selama 3 jam, semakin lama gelombang laut semakin kuat. Lalu, kami bersandar di teluk sebuah pulau yang tenang dan beristirahat (ada juga yang masak atau memancing dan malah dapat ular laut, pen). Menurut ABK kapal, sebetulnya jarak tempuh dari Pelabuhan Sape sampai ke Pulau Komodo itu sekitar 6 jam saja, namun kami dan kru kapal sepakat untuk tidak mengambil resiko berlayar di malam hari dengan gelombang yang mulai besar, menurut mereka Selat Sape adalah salah satu perairan dengan arus yang ganas. Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan dengan lancar ke Pulau Komodo dan Pulau Pandar. Setelah seharian menikmati wisata di pulau-pulau tersebut, senja itu juga kami berlayar kembali ke Pelabuhan Sape. Melihat mentari yang terbenam di balik pulau dari atas perahu. Meniti lagi jalan pulang.

Pagi di hari berikutnya, kami sudah menginjakan kaki di dermaga Pelabuhan Sape (sama seperti keberangkatan, kami beristirahat lagi di teluk sebuah pulau waktu berlayar pulang, pen). Setelah kembali dengan selamat, kami teringat bocah yang selalu berada di haluan selama laut tak terlalu ganas. Dia sering menjelaskan hal-hal yang tidak kami ketahui, seperti: Selama berlayar kaki jangan di keluarkan dari perahu; Jangan melihat ke belakang. Itu Pemali! Jika dipikir secara logis, itu bisa berarti: Awas nanti ada binatang yang menerjang atau memakan atau gelombang yang menghantam dan kamu jatuh dari perahu; Lihat ke depan! Bisa saja ada ombak besar atau batu karang yang tersembul ke permukaan. Selain itu, pernah juga dia menerangkan tentang permukaan laut yang terlihat tenang, namun perahu seakan terombang-ambing di situ. Pertemuan gelombang- gelombang yang memantul balik dari pulau-pulau sekitar membuat beberapa tempat di perairan itu seakan tenang. Anak itu berkata, “arus dalamnya kuat, walau kelihatannya tenang.”

Dengan pengetahuan yang terus bertambah, keahlian yang selalu diasah, mengerti alam seakan itu sahabat serta pemilihan waktu berlayar yang tepat. Kami rasa jalur Pelabuhan Sape ke Pulau Komodo bisa dikatakan aman (bukan berarti selalu tenang dan tak ada gelombang tinggi, selama tetap aman pelayaran bisa berlanjut, pen). Semoga ke depan ada perbaikan struktur dan infrastruktur di Bima khususnya di Bajo Pulo hingga kita bisa menikmati rentetan panorama indah tanpa terlewat.

Processed with VSCO with  preset

Seorang anak sedang mengamati laut dari haluan kapal

Nb: Kami ucapkan terima kasih kepada Kepala Desa dan Masyarakat Bajo Pulo. Serta orang-orang yang mendukung secara moril atau materiil yang tak dapat kami sebutkan satu persatu.

ANTARA NUSA

Tag

, , , , , , , , , , , , ,

IMG_20171022_131033edit

Bersama-sama kami melarung samudra menuju nusa,

di Tenggara.

K.M. AWU yang kami tumpangi,

berlari berlawanan arah dengan matahari dan bintang Barat.

Berganti rupa dan warna,

pesona aneka panorama.

 

Indonesia.

Tempat kami lahir dan tumbuh,

tempat kami menggambar kenangan,

tentang bumi yang terpapar berkah surga berlapis-lapis ini.

 

Inilah Negeri kami.

Laut anak lelaki,

yang bersandar di haluan,

menatap lurus ke depan.

 

Inilah Negeri kami.

Laut anak perempuan,

menari-nari di pesisir,

laksana riak-riak air.

 

Inilah Negeri kami.

Tanah di mana leluhurku bersemayam.

Tanah ragam manusia hidup,

mencari penghidupan,

belajar bersama alam,

melestarikan kebudayaan,

berbagi kesenangan,

melindungi dari kesengsaraan,

mengatasi kelaparan,

menangis bersamaan,

berdo’a berjamaah,

memperoleh kesejahteraan,

mensyukuri keindahan.

 

Mensyukuri keindahan.

SAJAK: Bangsa Besar

Tag

, , , , , , , , ,

Bangsa ini besar.

Hingga banyak yang menyasar.

 

Kekayaan alamnya.

Kemurahan pekerjanya.

Kenaifan penduduknya.

 

Terus ditipu,

dibombardir hal-hal semu.

 

Yang lain menjadi apatis.

Hilang jiwa-jiwa kritis.

 

Dinyamankan dunianya.

Kerja keras usahanya.

Hierarki pribadinya.

 

Dibuat lena,

Segalanya daya upaya!

 

Aku hidup dalam kemuakan yang tertimbun bertahun.

Membuncah amarah yang menjelma bagai raksasa.

Ingin ku iris tatanan dengan besi karat, terkutuklah!

 

Ada mereka yang tertindas,

dimanfaatkan mereka yang mencari posisi.

Mereka-mereka yang payah,

dibodohi orang berdasi.

 

Tapi yang terparah,

Bagaimana si miskin, si yatim, si papa, si durjana, si sengsara,

hanya dilihat sebelah mata.

 

Bangsa ini besar.

Karena ragam budayanya.
 

Kearifan lokalnya.

Keramah-tamahannya.

Syafakat masyarakatnya.

 

Jangan hilang.

Arah yang telah tertanam..

 

suku-bangsa-nusantara

CESPEN: Bocah-Bocah Bangkok

Tag

, , , , , , , , , ,

IMG_04032017_081858

Lihat! Mereka adalah bocah-bocah ayam bangkok. Menetas dari telur-telur kehidupan yang rawan. Lucu-lucu menghadapi dunia dalam gemerlap lampu. Menjerit-jerit setelah buang air dan tidak jijik karena itu punya sendiri. Indahnya dunia, barangkali begitu pikir mereka.

Namun, ketika nanti remaja, mulailah mereka menjadi anak jalanan taman. Balap lari liar satu dan yang lain, berkelahi satu sama lain untuk menjadi jagoan jalan taman itu. Bahkan, ada yang menjuluki dirinya sendiri sebagai “The Bangkok’s Gangster”. Kadang saat mengompori lawannya, salah satu bocah ayam itu akan berkata, “anak mana, lo? Cemen!”, seakan tidak tahu bahwa fobia kegelapan yang menjangkiti semua ayam membuat dia dan lawannya itu berpelukan pada malam sebelumnya.

Lalu, ada waktu mereka berebut makan. Padahal tuannya sudah menghitung jatah bagi masing-masing ayam berengsek itu. Entahlah! Barangkali keserakahan sulit disirnakan. Atau mungkin, itu karena ingin kekuasaan? Mengklaim dirinya berkarisma pemimpin agar menarik perhatian betina cabe-cabean berdada dan berpantat bangkok. Seperti saat beberapa ayam jantan itu memperebutkan si betina bernama Aura Kasur. Memang, betina itu memiliki daya tarik mengajak tidur atau semacam itu. Prilaku ayam agak sulit dipahami.

Ah! Tapi mereka tidak tahu. Ketika mereka bertemu tetua-tetua terdahulu, betina pun bisa dimadu, padahal mereka itu ayam, bukannya lebah. Yang jelas, generasi baru ini akan menyadari saat dipatuk kekuasaan lama yang bercokol, bahwa hak-hak hidup bisa terenggut. Kelaparan dan kematian kian rentan. “Pemenggalan tanpa pengadilan, kerja paksa hingga pantat susah memampat, adu domba pada ayam, serta tipu daya sesama. Namun, hidup terus berlanjut dan begitulah seharusnya.”, sebagaimana dicatut dari Kitab Ayam Bangkok Bab III Pasal 14. Ya.. lanjutkan hidup kalian, kawan.

Apa Ini?

Tag

, , , , , , , , ,

waterproof-temporary-font-b-tattoo-b-font-sticker-font-b-owl-b-font-font-b-tattoo

 

Tudung saji di buka.

Eh.. enggak ada apa-apa.

Ayam-ayam makan apa?

Tuannya kalah sama ayam.

 

Babi-babi bicara

dalam drama-drama.

Partikelir, hah!

Pura-puranya, Kang!

 

Nah, petang burung hantu keluar.

Visinya berpusing 360°.

Benar, salah, benar!

Laju santap malam.

 

Dunia apa ini?

Apa dunia ini?

Ini dunia apa?

Ah.. dunia-dunia dalam berita-berita.

Ikhtisar Si Depik

Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

13613678_10206548983865632_2708002646893337404_o

Sumber gambar, FB: Joe Targa.

Di tempat si depik
berada di antara bebukitan.
Bergema kobaran kata
saat manusia bercerita.
Tentang berbagai kisah,
perilaku manusia lainnya di alam raya.

Gelombang pasang pembangunan
terus menerjang, katanya.
Hutan tergerus dan meradang
memberi nafas miliaran manusia.
Sombong mendaki
bak raja di alamnya.
Sampah-sampah makin merajalela.

Bumi kian gersang
jarang terlihat pepohonan, ujarnya.
Andalkan tanah lain
sangkaannya sarang udara.
Di loka asing itu
rakyat kian miskin
tak bisa mengelola lahannya.
Tempat dulu moyangnya menanam,
menggembala,
bernyanyi suka ria.

Lalu, tak terduga
orang-orang kota melarangnya.
Siapa mereka?
Apa yang Tuhan ciptakan
tak disyukuri adanya,
Sedangkan buatan manusia
menjadi segalanya.

Setan-setan memberondong pohon
bagi hunian surga istimewa.
Berkhotbah bahwa
ini cita-cita
idaman bersama.
Aparatur negara tersenyum mesum
menerima pelicinnya.
Di langgar-langgar
para pemuka agama upahan
hanya bergunjing soal neraka.

Andam karam!
Mereka.. merekalah yang hina
di atas gelimpangan harta.
Serakah
seakan dunia miliknya.
Berjaya dikatakan
ketika keinginan diraihnya.
Tak mengerti perasaan orang
yang cuma ingin damai sentosa.

Jangan dulu bicara soal surga
atau neraka!
Jika keduanya
diberlakukan manusia di dunia.
Pun apa yang dilakukan
tak tentu berbuah surga nantinya.
Karena yang kutahu
hal itu hanyalah rida-Nya.

“Apa kalian pantas meraih segalanya?
Sementara saudara kalian merana
tercekik arus dunia.
Tempatnya jua berteduh sesaat,
sebelum tiba waktunya!”
Renung si ikan
mengembun bersama air danau Lut tawar senjakala.